Iran Tolak Melanjutkan Negoasiasi di Bawah Bayang-Bayang Ancaman AS


warga Iran turun ke Jalan nyatakan dukung penolakan negosiasi dengan AS
(foto : CNBC)


IDNsides, Teheran - Pemerintah Republik Islam Iran secara resmi menyatakan penolakan untuk melanjutkan meja perundingan dengan Amerika Serikat selama Washington terus menggunakan retorika ancaman militer dan tekanan ekonomi. Pernyataan ini muncul menyusul berakhirnya masa gencatan senjata dua minggu yang dimulai pada awal April lalu.


Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, yang juga bertindak sebagai negosiator utama dalam dinamika konflik terbaru ini, menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah menyerah pada diplomasi koersif.


"Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman," tulis Qalibaf melalui pernyataan resminya.


Ia menuduh Presiden AS, Donald Trump, mencoba mengubah proses perdamaian menjadi upaya "penyerahan diri" dengan mengeluarkan ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil Iran jika kesepakatan tidak tercapai.


ketua parlemen ira, Mohammad Bagher Ghalibaf (foto : X.com)

Berdasarkan laporan dari kantor berita resmi Iran, IRNA, dan media yang berafiliasi dengan militer, terdapat beberapa alasan utama mengapa Teheran enggan kembali ke meja perundingan di Pakistan atau lokasi lainnya saat ini:


  • Tuntutan yang Tidak Realistis: Iran menilai tuntutan AS terkait program rudal balistik dan nuklirnya melampaui batas kedaulatan nasional.

  • Blokade Laut: Iran menuntut pencabutan blokade angkatan laut AS di pesisir Iran sebagai prasyarat utama sebelum pembicaraan bermakna dapat dilakukan.

  • Ketidakkonsistenan Washington: Pihak Teheran mengkritik sikap AS yang sering berubah-ubah dan penuh kontradiksi dalam menetapkan kerangka kerja negosiasi.

  • Retorika Militer: Ancaman terbaru dari Gedung Putih yang menyebut akan "menghancurkan peradaban" Iran jika blokade Selat Hormuz tidak dibuka secara permanen dianggap sebagai provokasi perang, bukan ajakan damai.



update kapal yang melintasi selat hormuz (foto : CNBC)

Ketegangan ini bukan sekadar retorika diplomatik. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah meningkatkan kesiagaan di sepanjang Selat Hormuz. Setelah sempat menjanjikan pembukaan jalur komersial, Iran kembali memperketat pengawasan setelah AS menyita kapal kargo berbendera Iran di Laut Arab pada pertengahan April.


Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa setiap agresi militer terhadap wilayah Iran akan memicu konflik regional yang luas. "Bangsa Iran akan memberikan pukulan kuat kepada siapa pun yang menyerang dan mengganggu kedaulatannya," tegas pernyataan dari kantor kepemimpinan.


Meski delegasi Iran menyatakan masih terbuka untuk diskusi yang "bermakna", mereka menekankan bahwa kerangka kerja harus ditentukan sebelumnya secara adil. Tanpa penghapusan sanksi dan penghentian ancaman militer, Teheran menganggap negosiasi hanya akan menjadi "pemborosan waktu".


Dunia kini menanti apakah mediator internasional dapat meredakan ketegangan sebelum gesekan di perairan Teluk berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih besar.


Post a Comment

أحدث أقدم