IDNsides - Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memicu kekhawatiran nyata di tengah masyarakat. Kejatuhan mata uang domestik ini diprediksi akan segera berimbas pada kenaikan harga berbagai barang kebutuhan pokok dan elektronik yang berbasis impor. Kondisi ini menjadi tantangan berat bagi daya beli masyarakat yang saat ini juga sedang menghadapi dinamika ekonomi domestik yang menantang.
Sejumlah pelaku usaha mikro hingga makro yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri mulai memutar otak menghadapi lonjakan biaya produksi. Industri seperti tekstil, farmasi, hingga perakitan elektronik menjadi sektor yang paling rentan terkena dampak langsung dari depresiasi rupiah ini. Jika tren pelemahan ini terus berlanjut tanpa ada intervensi yang meredam, para pengusaha mengaku tidak punya pilihan lain selain membebankan kenaikan biaya tersebut kepada harga jual di tingkat konsumen.
![]() |
| rupiah jatu ke 18.000 per dolar As (Ilustrasi Foto/: merdeka.com) |
Faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global dan tingginya harga komoditas energi dunia diakui menjadi motor utama yang memperkasa posisi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Selain itu, tingginya permintaan dolar di dalam negeri untuk pembayaran utang luar negeri korporasi dan pembiayaan impor musiman turut mempersempit ruang gerak mata uang Garuda. Hal ini membuat sentimen pasar cenderung negatif meski fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid.
Menghadapi situasi genting ini, Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam dengan terus melakukan intervensi di pasar spot maupun pasar berjangka guna menjaga volatilitas rupiah agar tetap terukur. Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk lebih memprioritaskan konsumsi produk dalam negeri guna menekan laju impor dan membantu stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah diharapkan dapat bergerak cepat memberikan stimulus perlindungan bagi sektor industri kecil agar tidak terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja.


Posting Komentar